English / Indonesia
 
Home What We Do What You Can Do About COP Photo Video  
         
Donate
 
Orangutan DNA
   

Kertaningtyas | 07 Maret 2013

KISAH CINTA DI SIBOLANGIT


Bookmark and Share

Berkunjung ke Pusat Karantina Orangutan di desa Batu Mbelin Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara, bagi kami tim Sumatera Mission, membuahkan kesan tersendiri. Drh Yenny Saraswati,  Manajer Pusat Karantina  Sumatran Orangutan Center Programme (SOCP) mengantar kami "mengintip"  sepasang orangutan buta. Kunjungan ini semakin membuka mata bahwa seperti manusia orangutan juga punya cinta.


"Di sini kita hanya diperbolehkan melihat orangutan dalam jarak tertentu," kata Yeni membuka arahan sebelum kami masuk ke areal karantina. "Silahkan menggunakan masker dan silahkan memotret namun tidak boleh menggunakan blitz.


Orangutan memiliki privacy dan perasaan. Ia bisa merasa tidak senang, terganggu atau marah bahkan akan menggugah trauma masa lalunya konflik dengan manusia. Dengan demikian akan mengganggu proses rehabilitasi.


Seperti Gober dan Leuser, kedua  orangutan ini merupakan korban konflik dengan manusia. Mereka sensitif dengan setiap orang yang datang kecuali animal keeper yang telah mereka kenal. Diluar faktor usia,  trauma dan kekerasan yang dialami menyebabkan mereka menderita kebutaan.


Gober adalah orangutan betina yang ditemukan dan ditangkap warga di sekitar perkebunan karet yang berdekatan dengan hutan alami pada tahun 2008 silam di kabupaten Langkat, Sumatera Utara.  Mereka kemudian diselamatkan dan dikarantina oleh SOCP.  Gober buta dari katarak yang ia derita diperkirakan karena usianya yang sudah renta sekitar 40 tahun serta trauma penangkapan yang dialaminya.


Sedangkan Leuser adalah korban penembakan. Ia berasal dari Taman Nasional Bukit Tiga Puluh Jambi. Bersarang 62 peluru senapan angin di tubuhnya, dua peluru bersarang di salah satu matanya dan 1 peluru di mata yang lain. Akibatnya, ia menjadi buta. Leuser dioperasi secara bertahap, saat ini masih ada sekitar 30 peluru bersarang di tubuhnya.


Leuser dan Gober bertemu di pusat karantina. Kebutaan tak menghalangi kisah cinta mereka, hingga lahirlah si kembar satu setengah tahun yang lalu sebagai buah cinta mereka. Sebagai saksi dan bukti bahwa mereka adalah makhluk Tuhan yang juga punya cinta.


Terlebih ketika Gober melahirkan. Tim dokter sempat mengkhawatirkan apakah ia yang buta mampu melewati proses persalinan dan merawat anaknya? Di luar dugaan, insting Gober masih sangat baik hingga ia mampu melahirkan kedua bayi kembarnya dengan selamat, membersihkan darah hingga memotong tali pusar anaknya sendiri, ia juga mampu menyusui dan meletakkan anaknya di tempat yang aman sekalipun ia buta.


Apalagi saat ini, ia lebih dapat merawat kedua anaknya setelah Agustus 2012 lalu tim dokter mengoperasi  kataraknya.  Dan Gober masih sangat mungkin dilepasliarkan kembali bersama kedua anaknya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di habitatnya.





Write your comments:
Shop Orangufriends Public Figure Event The Ape teams
Our Partner
Monkey BusinessOrangutan outreachAustraliansave orangutanCaptive Orangutan Enrichment Angel Projects Captive Orangutan Enrichment Angel Projects www.ifaw.orgOrangutan AppealethikoolOrangutan.lu
Facebook Youtube Twitter Vimeo
 
Recent news
Pemerintah Belum Bertindak Atas Kerusakan Teluk Balikpapan

Kerusakan Teluk Balikpapan Akibat Perubahan RTRW

Kerusakan Lingkungan Teluk Balikpapan Ancam Matapencaharian Nelayan

Gubernur Ingatkan Kebakaran Hutan

Ekowisata Orangutan Tanjung Puting Terancam Kelapa Sawit

 

Stories From Field

Vored

Nature Alert

Buku

Sound4orangutan

 
Find COP Facebook
 
 
 
 
   
Centre for Orangutan Protection
WTC II Lt. 18 Jl. Jend. Sudirman Kav. 29 Jakarta 12920
email: info@orangutanprotection.com